Lintasan di Masjid Kota Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan

Lintasan di Masjid Kota Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan

Lintasan di Masjid Kota Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan

Disini semuanya sudah tersedia dengan angan yang tidak mungkin bisa tercipta akan sebuah hal yang seharusnya terjadi pada cinta lama yang tidak mungkin bisa terulang lagi. Khusni Mubarokah saat itu tetap berada di pinggir sungai kecil belakang rumahnya sambil memandangi bayangan dirinya dalam air yang mengaliir cukup deras itu. memag saat itu daerahnya di Kota Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan sedang dilanda hujan berkepanjangan sempat juga membuat lintasa Masjid juga tergenang air karena hujan yang sudah hampir satu minggu belum pernah reda juga. Sungai yang mengalir deras ini menjadi teman Mubarokah dalam kesendiriannya kesepiannya meratapi hidupnya yang tidak juga bertemu dengan jodohnya. Padahal setiap hari dia selalu ke Masjid dan disana dia berdoa untuk segera diberikan jodoh yang terbaik alangkah indahnya bisa membangun sebuah keluarga kecil bersama kekasih istri yang dia cinta. Itu bunyi dalam batinnya yang terus terulang setiap kali dia kembali pada bayangan sosok wanita yang seperti apa yang dia inginkan.

Padahal, dia tidak pernah berhenti berdoa dan juga semasa beberapa tahun yang lalu sudah banyak wanita datang kepadanya, tidak tanggung tanggung ayahnya juga ikut mencarikan jodoh kepadanya. Sampai sampai ayahnya tetap berusaha dengan mencarikan kepada banyak orang ketika dia berada di Masjid. Karena itulah dia tidak ingin sekali dalam hidupnya bisa menjadikan dia sebagai orang yang tidak pernah bisa belajar kepada siapapun. Meski waktu itu hujan masih tetap turun dengan waktu sudah menunjukan pukul 10.00 Wib, tapi hujan belum reda entah sampai kapan hujan ini akan terus datang dengan segala hormat adanya hujan ini membuat Mubarok tidak bisa memainkan senar gitarnya kepada kekasihnya. Dia memang sedang frustasi mengingat usianya sudah hampir 29 tahun tapi belum juga dia bisa berumah tangga dengan siapa nantinya. Padahal dia sudah sangat ingin sekali memiliki keluarga kecil di rumahnya yang bisa dia bangun bersama.

Bukan sebuah ironi memang melihat kisah masa remajanya yang tidak pernah menjauh dari Masjid kini Mubarok memang harus segera menemukan tambatan hati kasihnya. Dengan memintakan bantuan kepada temannya siapa tahu dia mendapatkan wanita yang cocok. Karena setiap kali ada wanita ada hatinya yang mengatakan bahwa tidak ada kecocokan diantara mereka. Ini yang membuat dia susah, padahal dia sebenarnya tidak memberikan pilihan yang khusus kepada siapa hatinya, orangnya kaya atau miskin tidak pernah menjadi prioritasnya karena dia hanya ingin melihat arah ke Masjid agar tetap mendapatkan jodoh sesuai dengan ketentuan agama. Tuntunan agama dengan mencari seorang istri yang soleh adalah keinginannya. Semoga dia bisa segera mendapatkan jodoh itu.

Leave a Reply